Loading...

Perizinan Dan Amdal

PERIZINAN

  • PT NSHE selalu mengikuti dan mentaati peraturan dan hukum yang berlaku di Republik Indonesia dalam menjalankan usahanya, antara lain: Location Permits (Ijin Lokasi), Environmental License (Ijin Lingkungan), Environmental Impact Analysis Permit (Ijin AMDAL), Surface Water Use License (Surat Ijin Penggunaan Air Permukaan, SIPAP), Electricity Supply Business License (IUPTL, Ijin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) Main Structures Construction Permits (IMB, Ijin Mendirikan Bangunan), Importers Identification Number – Produsen (Angka Pengenal Import – Produsen (API–P)), Wood Utilization Permits (IPK, Ijin Pemanfaatn Kayu), Investment Permit (Ijin Prinsip Penanaman Modal), Own, Use, and Stoarge (magazine) explosive Permit (Ijin Kepemilikan, penggunaan, penyimpanan bahan peledak), Ijin Mempekerjakan Tenaga Asing

AMDAL

  • PLTA Batang Toru melakukan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sebagai suatu syarat utama pembangunan PLTA dan secara sukarela mengadopsi standard kinerja (performance standard) dari International Finance Corporation (IFC). Sebagai konsekuensinya, berlaku hirarki mitigasi demi melindungi keanekaragaman hayati di sekitar lokasi proyek yang di dalamnya termasuk tentang Biodiversity conservation and Management of Living Natural Resources.

Kajian Gempa

Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang berada di banyak patahan aktif Bumi, sehingga negeri ini amat rawan diguncang gempa. Hal ini tentunya menjadi pertimbangan utama PT NHSE saat mengembangkan proyek PLTA Batangtoru.


PLTA Batangtoru dibangun di dekat sesar aktif Pulau Sumatera. Sudah banyak contoh pembangunan bendungan atau waduk bisa menimbulkan gempa atau reservoir Sinduced seismicity (RIS).


Pembangkit listrik yang memiliki bendungan raksasa tentu potensi bahayanya amat besar. Jika gempa terjadi dan bendungan jebol, maka keselamatan warga di sekitar terutama di kawasan hilir menjadi taruhan.


Potensi bahaya inilah yang membuat PLTA Batangtoru tidak memiliki reservoir atau waduk raksasa. Lokasi penampungan air volumenya amat kecil sehingga tidak memiliki risiko RIS.

PLTA Batang Toru sudah memperhitungkan risiko gempa sehingga dirancang dengan standard ICOLD (International Commissions on Large Dams) dengan menggunakan para ahli dari Tiongkok, Prancis, Cina Taiwan dan Indonesia.


Selain itu, pembangunan PLTA Batangtoru dilakkan setelah Komisi Keselamatan Bendungan Indonesia (IDSC) yang berada di bawah Kementeran PUPR memberikan izin dimulainya pembangunan konstuksi.

Dinamika Perubahan Kawasan

Perubahan tutupan lahan di Kawasan Batang Toru sudah lama terjadi. Melihat kembali studi yang telah dilakukan oleh Unep (2011) bahwa pada tahun 1990 sudah banyak ditemukan perkebunan, baik itu karet dan kopi didalam Kawasan Batang Toru, baik itu disekitar hutan lindung, kawasan konservasi, dan pada lahan dengan status Areal Penggunaan Lain.

Seiring berjalannya waktu, perkebunan, kebun karet, dan kebun kopi semakin bertambah luasnya sehingga terjadi perubahan tutupan lahan yang cukup signifikan di dalam Kawasan Batangtoru. Koridor satwa liar yang menghubungkan hutan lindung dengan Cagar Alam Dolok Sibual-Buali pada tahun 1990 masih menyatu, tetapi sejak tahun 2000 koridor tersebut sudah terputus karena area perkebunan, kebun karet, dan kebun kopi yang semakin luas.

Areal Batang Toru telah mengalami modifikasi dan masyarakat menjalankan system agroforestry. Luas lahan yang digunakan sebagai tapak permanen PLTA Batang Toru hanya 122,5 Ha atau hanya 15% dari total lahan yang telah dibeli perusahaan, sisa lahan seluas 446,6 Ha atau 67% akan ditanami kembali (replanting).

Orang Utan



Orang Utan Tapanuli memiliki Habitat yang tersebar di hutan-hutan dalam ekosistem Batang Toru seluas 162.000 Ha (TFCA,2018) sebuah wilayah seluas London dan lebih luas dibandingkan dengan wilayah DKI Jakarta.

Orang utan selalu bergerak berpindah tempat dengan daerah jelajah yang bervariasi antara 800 - 3.000 ha. Adapun luas tapak struktur bangunan PLTA Batang Toru adalah 122 ha atau 0,07% dari total kawasan ekosistem Batang Toru. Dengan demikian, luas areal proyek lebih kecil dibandingkan dengan kebutuhan habitat bagi satu individu orang utan.

Orangutan Tapanuli telah beradaptasi dengan lingkungan dan hidup di dataran tinggi (>600 m dpl) dengan suhu udara yang dingin, oleh sebab itu orang utan tapanuli memiliki bulu yang lebih lebat dan lebih panjang dibandingkan dengan orangutan lainnya.

Bagian tertinggi Proyek PLTA Batang Toru terletak pada ketinggian 430m dpl, jauh lebih rendah dari ketinggian habitat utama orangutan.

Hasil Survey Kuswanda dan Fitri (2017,2018) menunjukkan bahwa kepadatan sarang di sekitar areal proyek 0,41 per Km2 yang berarti bahwa kepadatan orang utan adalah 1 individu/250 ha. Dengan demikian, maka lokasi proyek bukan pusat habitat maupun sumber populasi orang utan.

Wanda Kuswanda Peneliti Utama Balai Penelitian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah melakukan penelitian Orang Utan Batang Toru sejak tahun 2003.

Berdasarkan hasil groundcheck (Prof. Yanto Santosa, 2a018) terhadap peta sebaran sarang yang dibuat oleh YEL(2015) di areal izin lokasi (7.200 Ha), sebagian besar lokasi yang pernah dilaporkan sebagai titik temuan sarang tidak lagi digunakan untuk aktivitas bersarang. Hanya ditemukan 10,34% sarang yang diklasifikasikan sebagai sarang baru(atau kelas Sarang A) dan sebagian besar didominasi oleh sarang lama (kelas sarang E = 51,72%).


Sedangkan kelas sarang B, C dan D masing-masing sebesar 6,89%; 13,79% dan 17,24%. Fakta menarik lainnya dari hasil ground-check adalah bahwa sebagian besar temuan sarang“versi YEL” terletak pada lokasi-lokasi berupa tebing curam yang relatif “sulit sekali” untuk dijangkau oleh orangutan, terlebih jika menggunakan metode yang biasa/ umum digunakan dalam survei “sarang orangutan”.

Perlu diingat bahwa kekeliruan/kesalahan penerapan metode ini di lapangan akan menyebabkan data hasil survei yang tidak akurat dan tidak akan bisa dijadikan “rujukan” yang sahih secara ilmiah

Fakta ini juga menunjukkan bahwa areal yang menjadi tapak kegiatan PLTA Batang Toru relatif tidak sering digunakan oleh orangutansehingga tidak termasuk kategori sebagai habitat utama.

Hasil Analisa data kepadatan sarang, dengan memasukkan semua faktor koreksi pendugaan populasi maka diperoleh nilai dugaan kepadatan populasi orangutan di areal 7.200 Ha di sekitar areal tapak PLTA Batang Toru sebesar 0,48 individu/km2. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian di lokasi yang sama yang dilakukan oleh Kuswanda (2017), dan cenderung lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai kepadatan orangutan di Dolok Sibual-buali, Ketambe dan Mams TNGL (07-1,2 individu/km2).


Hasil pengamatan yang dilakukan oleh Lembaga Sipirok Lestari Indonesia, membuktikan bahwa orang utan Tapanuli juga turun ke tanah, bukan satwa arboreal murni (Strictly arboreal), dengan orang utan masih dapat menyeberang jalan. Selain itu hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa orangutan Tapanuli tidak terganggu oleh suara mesin alat berat yang bekerja. Orangutan tetap tenang berada disekitarnya sambil beraktivitas, makan dan beristirahat.


Pengelolaan Biodiversitas Dan Lingkungan


Terdapat tiga pilar penting yang menjadi dasar dalam menerapkan kebijakan pembangunan PLTA Batangtoru yaitu GREEN (ramah lingkungan), SAFE (aman), dan WELFARE (kesejahteraan

PLTA Batang Toru juga telah membuat RKL/RPL (Rencana Pengelolaan Lingkungan/Rencana Pemantauan Lingkungan), dan untuk memenuhi standard internasional (Performance StandardIFC) telah dilakukan studi ESHIA (Environmental, Social and Health Impact Assessment) oleh Environmental Resources Management (ERM) sebagai konsultan lingkungan perusahaan.

Pengelolaan biodiversitas/keanekaragaman hayati dan lingkungan mengacu pada Biodiversity Action Planyang telah disusunperusahaan dan konsultan internasional yaitu Environmental Resources Management(ERM) sebagai arahan terhadap pengelolaan biodiversitas dan lingkungan


Program–program biodiversitas dan lingkungan yang telah diimplementasikan perusahaan, antara lain:

Biodiversity Offset

Biodiversity offsetadalah melakukan kegiatan-kegiatan konservasi sumberdaya alam termasuk perbaikan habitat, peningkatan populasi, dan lain-lain.

Untuk menjalankan program Biodiversity Offsetsaat ini sedang dalam tahap pembahasan rencana kerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Sumatera Utara, sebagai pemegang otoritas manajemen CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Sebagai arahan terhadap pengelolaan lingkungan, perusahaan menyiapkan Biodiversity Action Plan yang disusun bersama-sama perusahaan dan konsultan internasional yaitu Environmental Resources Management (ERM).


Mitigasi

Perusahaan telah merencanakan tindakan-tindakan mitigasi terhadap potensi dampak negatif yang mungkin timbul akibat pembangunan proyek, yaitu:

  • Tindakan yang dilakukan terhadap potensi dampak negatif adalah dihindari (avoid) apabila memungkinakan untuk dihindari.
  • Apabila tidak dapat dihindari kemudian diminimalisasi (minimalize), atau dikelola dan
  • Langkah terakhir adalah melakukan penggantian (offset) terhadap residu dampak.
  • Biodiversity offset adalah melakukan kegiatan-kegiatan konservasi sumberdaya alam termasuk perbaikan habitat, peningkatan populasi, dan lain-lain.

Gambaran Umum

Batang Toru adalah Kawasan yang melingkupi tiga kabupaten : Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara di Propinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kawasan ini kaya akan sumber alam dan keanekaragaman hayati.

Luas kawasan Batangtoru adalah 163,000 ha, meliputi:

  • Hutan Lindung
  • Hutan Konservasi
  • Hutan Produksi
  • Area Penggunaan Lain, yang dialokasikan pemerintah untuk Kawasan pemukiman, pertanian, pertambangan, dll.

Selain kekayaan hutan, Batang Toru juga memiliki kekayaan satwa seperti Orangutan, Harimau Sumatera, Ikan Jurung, Tapir, Beruang, dan Burung Rangkong yang merupakan satwa endemik. Harimau Sumatra misalnya, sat ini hanya tinggal 500 ekor di seluruh Sumatra.

Kawasan Batang Toru terdiri dari berbagai macam penggunaan lahan, termasuk areal lokasi proyek PLTA Batangtoru yang didominasi kebun karet (UNEP, 2011). Berbagai macam penggunaan lahan tersebut menyebabkan hutan-hutan Batangtoru yang merupakan habitat satwa liar menjadi terpisah antara yang satu dengan lainnya, seperti:

  • Perkebunan
  • Pertambangan
  • Jalan Raya
  • Pemukiman dan perkotaan

Tutupan Lahan


Seluruh lahan yang diperlukan untuk pembangunan PLTA Batangtoru dibeli dari masyarakat dan transaksi jual-beli lahan telah diselesaikan dalam kurun 2013-2016.

Di dalam PLTA Batangtoru banyak ditemukan kebun campuran dengan dominasi vegetasi berupa tanaman budidaya seperti karet, aren, kopi, cokelat, durian, petai, dan jengkol.

Berdasarkan Data Disbun Sumut (2017), diketahui bahwa keberadaan perkebunan rakyat tersebar dengan luas yang bervariasi, baik di Kecamatan Angkola Timur (361,50 Ha), Batangtoru (2.120,50 Ha), Marancar (61 Ha), dan Angkola Sangkunur (305 Ha).


Sebagian besar mata pencaharian masyarakat pada area lingkar proyek berprofesi sebagai petani, baik itu petani karet, kopi, cokelat, padi, ataupun tanaman budidaya lainnya. Vegetasi-vegetasi tersebut bernilai ekonomi bagi masyarakat di Kecamatan Sipirok, Marancar, dan Batangtoru sehingga tak heran jika vegetasi-vegetasi tersebut, termasuk area persawahan banyak dijumpai di dalam area PLTA Batangtoru.


APAKAH ANDA MASIH MEMILIKI PERTANYAAN TENTANG LAYANAN KAMI?

Segera hubungi kami apabila ada pertanyaan yang ingin ditanyakan