Loading...

Dinamika Perubahan Kawasan

Perubahan tutupan lahan di Kawasan Batang Toru sudah lama terjadi. Melihat kembali studi yang telah dilakukan oleh Unep (2011) bahwa pada tahun 1990 sudah banyak ditemukan perkebunan, baik itu karet dan kopi didalam Kawasan Batang Toru, baik itu disekitar hutan lindung, kawasan konservasi, dan pada lahan dengan status Areal Penggunaan Lain.

Seiring berjalannya waktu, perkebunan, kebun karet, dan kebun kopi semakin bertambah luasnya sehingga terjadi perubahan tutupan lahan yang cukup signifikan di dalam Kawasan Batangtoru. Koridor satwa liar yang menghubungkan hutan lindung dengan Cagar Alam Dolok Sibual-Buali pada tahun 1990 masih menyatu, tetapi sejak tahun 2000 koridor tersebut sudah terputus karena area perkebunan, kebun karet, dan kebun kopi yang semakin luas.

Areal Batang Toru telah mengalami modifikasi dan masyarakat menjalankan system agroforestry. Luas lahan yang digunakan sebagai tapak permanen PLTA Batang Toru hanya 122,5 Ha atau hanya 15% dari total lahan yang telah dibeli perusahaan, sisa lahan seluas 446,6 Ha atau 67% akan ditanami kembali (replanting).

Orangutan



Orangutan Tapanuli memiliki Habitat yang tersebar di hutan-hutan dalam ekosistem Batang Toru seluas 162.000 Ha (TFCA,2018) sebuah wilayah seluas London dan lebih luas dibandingkan dengan wilayah DKI Jakarta.

Orang utan selalu bergerak berpindah tempat dengan daerah jelajah yang bervariasi antara 800 - 3.000 ha. Adapun luas tapak struktur bangunan PLTA Batang Toru adalah 122 ha atau 0,07% dari total kawasan ekosistem Batang Toru. Dengan demikian, luas areal proyek lebih kecil dibandingkan dengan kebutuhan habitat bagi satu individu orang utan.

Orangutan Tapanuli telah beradaptasi dengan lingkungan dan hidup di dataran tinggi (>600 m dpl) dengan suhu udara yang dingin, oleh sebab itu orang utan tapanuli memiliki bulu yang lebih lebat dan lebih panjang dibandingkan dengan orangutan lainnya.

Bagian tertinggi Proyek PLTA Batang Toru terletak pada ketinggian 430m dpl, jauh lebih rendah dari ketinggian habitat utama orangutan.

Hasil Survey Kuswanda dan Fitri (2017,2018) menunjukkan bahwa kepadatan sarang di sekitar areal proyek 0,41 per Km2 yang berarti bahwa kepadatan orang utan adalah 1 individu/250 ha. Dengan demikian, maka lokasi proyek bukan pusat habitat maupun sumber populasi orang utan.

Wanda Kuswanda Peneliti Utama Balai Penelitian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah melakukan penelitian Orang Utan Batang Toru sejak tahun 2003.

Berdasarkan hasil groundcheck (Prof. Yanto Santosa, 2a018) terhadap peta sebaran sarang yang dibuat oleh YEL(2015) di areal izin lokasi (7.200 Ha), sebagian besar lokasi yang pernah dilaporkan sebagai titik temuan sarang tidak lagi digunakan untuk aktivitas bersarang. Hanya ditemukan 10,34% sarang yang diklasifikasikan sebagai sarang baru(atau kelas Sarang A) dan sebagian besar didominasi oleh sarang lama (kelas sarang E = 51,72%).


Sedangkan kelas sarang B, C dan D masing-masing sebesar 6,89%; 13,79% dan 17,24%. Fakta menarik lainnya dari hasil ground-check adalah bahwa sebagian besar temuan sarang“versi YEL” terletak pada lokasi-lokasi berupa tebing curam yang relatif “sulit sekali” untuk dijangkau oleh orangutan, terlebih jika menggunakan metode yang biasa/ umum digunakan dalam survei “sarang orangutan”.

Perlu diingat bahwa kekeliruan/kesalahan penerapan metode ini di lapangan akan menyebabkan data hasil survei yang tidak akurat dan tidak akan bisa dijadikan “rujukan” yang sahih secara ilmiah

Fakta ini juga menunjukkan bahwa areal yang menjadi tapak kegiatan PLTA Batang Toru relatif tidak sering digunakan oleh orangutansehingga tidak termasuk kategori sebagai habitat utama.

Hasil Analisa data kepadatan sarang, dengan memasukkan semua faktor koreksi pendugaan populasi maka diperoleh nilai dugaan kepadatan populasi orangutan di areal 7.200 Ha di sekitar areal tapak PLTA Batang Toru sebesar 0,48 individu/km2. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian di lokasi yang sama yang dilakukan oleh Kuswanda (2017), dan cenderung lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai kepadatan orangutan di Dolok Sibual-buali, Ketambe dan Mams TNGL (07-1,2 individu/km2).

Hasil pengamatan yang dilakukan oleh Lembaga Sipirok Lestari Indonesia, membuktikan bahwa orang utan Tapanuli juga turun ke tanah, bukan satwa arboreal murni (Strictly arboreal), dengan orang utan masih dapat menyeberang jalan. Selain itu hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa orangutan Tapanuli tidak terganggu oleh suara mesin alat berat yang bekerja. Orangutan tetap tenang berada disekitarnya sambil beraktivitas, makan dan beristirahat.


NSHE is committed to continuously implement various activities and programs in our effort to manage and protect the environment and biodiversity in the Batang Toru ecosystem.


Biodiversity Offset

Biodiversity offsets are activities intended for the conservation of natural environment including habitat restoration, population increase and others.


NSHE is currently in the process of designing a collaborative plan with the North Sumatra Province Natural Resources Conservation Center as the authoritative management for the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) to develop a Biodiversity Offset program.


As a directive for environmental management, the company has also prepared a Biodiversity Action Plan which was designed together with international companies and consultants, namely the Environmental Resource Management (ERM).


To read more, download the Biodiversity Action Plan document here.


Arboreal Bridges

Habitat connectivity is an important factor in preserving wildlife. To maintain the connectivity of the habitat of arboreal animals, NSHE has constructed arboreal bridges which connect the left and right sides of the forest which has been identified as wildlife hotspots. The spaces which have been connected with arboreal bridges is currently naturally divided by the Batang Toru river or main roads.

Monitoring results on the function of the arboreal bridge, indicate that this facility is functioning properly, and has been used by wildlife to cross roads and rivers.

For terrestrial animals, the means of crossing are maintained by functioning the culvert in such a way, so that it can be used by reptiles and maintained in certain places, so that animals do not have difficulty passing. To further protect the wildlife and maintaining arboreal bridges, warning signs have been installed in these places.

Zero Tolerance Policy

NSHE has set a "Zero Tolerance" policy that applies to all employees. The implementation of the ZERO TOLERANCE policy on possession, poaching, hunting and trade in wild plants and animals is intended so that the employees does not cause disruption to wildlife.


To support this policy, all company employees are trained in workshops on regulations and rules related to wildlife protection and rescue. NSHE has also installed various warning signs to warn employees/passersby for known wildlife in the area and notice of prohibition of hunting and other activities.

Wildlife Monitoring

Monitoring activities are intended to monitor the presence and safety of wild animal, conduct rescue actions if needed, ensure employees' compliance with company policies, etc. Wildlife monitoring is carried out by the monitoring team consisted of NSHE dedicated monitoring team, BKSDA, local NGOs and communities.


Orangutan


In 2017, a team of scientists discovered the third known species of orangutan, the Tapanuli Orangutan (Pongo tapanuliensis). Unlike their Bornean and Sumatran relatives (Pongo pygmeaus and Pongo abelii), the Tapanuli Orangutan have frizzier hair, smaller heads, and flatter faces, while dominant male Tapanuli Orangutans have prominent moustaches and large flat cheek pads, known as flanges, covered in downy hair.


The Tapanuli Orangutan is endemic to the Batang Toru forest, with an estimated population of around 800 individuals. Their habitat is spread in the 162,000 Ha of the Batang Toru forest ecosystem (TFCA, 2018), an area as large as London or wider than DKI Jakarta.


Orangutans, according to the Sipirok Lestari Indonesia Institute, often descend to the ground indicating that they are not pure arboreal animals (strictly arboreal). Other observations show that Tapanuli orangutans are not disturbed by the sound of heavy machinery working. Orangutans continue to conduct a calm behavior around them while on the move, eating and resting.


A number of studies conducted shows the fact that the area that is the site of the activities of the Batang Toru HEPP is relatively not often used by orangutans so it is not categorized as their main habitat.


Our efforts

NSHE realizes the vital role to contribute to the protection of the Tapanuli Orangutan. In line with our commitment in Biodiversity Offset, NSHE has initiated multiple orangutan-focused programs for the improvement of this endemic species’ welfare.


• Survey and Monitoring

NSHE has a dedicated team of renowned orangutan experts leading the company’s initiative for the Tapanuli Orangutans. The team is currently conducting survey and monitoring of the Tapanuli Orangutan in their habitat to record data and insight which will be vital for the development of future Biodiversity Offset programs and orangutan programs.


• House of Pongo Tapanuli

NSHE has also allocated 32 Ha of land in the Batu Satail area to build the “House of Pongo Tapanuli”, a research station and the Batangtoru Ecosystem Conservation Information Center, focusing on research into the Tapanuli Orangutan to ensure this species thrives across the whole of the national park. The long-term master plan for this Centre is currently being prepared by Faculty of Forestry, Bogor Agriculture Institute (IPB). By doing this, the company aims to increase overall knowledge of the whole Batangtoru ecosystem.


Mitigasi

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap pembangunan akan membawa dampak sementara terhadap lingkungan disekitarnya. Perusahaan berkomitmen untuk mengikuti pedoman-pedoman cermat dalam setiap bagian pekerjaan proyek yaitu melalui:

  • Tindakan yang dilakukan terhadap potensi dampak negatif adalah dihindari (avoid) apabila memungkinakan untuk dihindari.
  • Apabila tidak dapat dihindari kemudian diminimalisasi (minimalize), atau dikelola dan
  • Untuk melakukan penggantian (offset) terhadap residu dampak.
  • Implentasi Biodiversity offset,yaitu melakukan kegiatan-kegiatan konservasi sumberdaya alam termasuk perbaikan habitat, peningkatan populasi, dan lain-lain.

Sebagai upaya untuk memetakan potensi dampak negatif dan membuat rencana aksi untuk menghindari potensi dampak negatif, serta menyiapkan rencana mitigasi untuk potensi dampak yang mungkin terjadi, perusahaan telah menjalankan studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Environmental Safety Health Impact Assessment(ESHIA) serta Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL/RPL) berdasarkan standar internasional International Financial Corporations (IFC) Performance Standards.

Sebagai contoh, di luar dari 122 hektar lahan proyek permanen,NSHE akan memulihkan dan menanam kembali sisa lahan seluas 446,6 hektar atau 67% dari total area yang digunakan selama pembangunan konstruksi proyek.

Kajian Gempa

Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang berada di banyak patahan aktif Bumi, sehingga negeri ini amat rawan diguncang gempa. Hal ini tentunya menjadi pertimbangan utama PT NHSE saat mengembangkan proyek PLTA Batang Toru.

PLTA Batang Toru sudah memperhitungkan risiko gempa sehingga dirancang dengan standard International Commissions on Large Dams (ICOLD) oleh para ahli dari Tiongkok, Prancis, Taiwan dan Indonesia.


Selain itu, Komisi Keselamatan Bendungan Indonesia (IDSC) Kementerian PUPR telah meninjau dan memberikan izin pembangunan konstruksi PLTA Batang Toru.

Gambaran Umum

Batang Toru adalah Kawasan yang melingkupi tiga kabupaten : Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara di Propinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kawasan ini kaya akan sumber alam dan keanekaragaman hayati.

Luas kawasan Batangtoru adalah 163,000 ha, meliputi:

  • Hutan Lindung
  • Hutan Konservasi
  • Hutan Produksi
  • Area Penggunaan Lain, yang dialokasikan pemerintah untuk Kawasan pemukiman, pertanian, pertambangan, dll.

Selain kekayaan hutan, Batang Toru juga memiliki kekayaan satwa seperti Orangutan, Harimau Sumatera, Ikan Jurung, Tapir, Beruang, dan Burung Rangkong yang merupakan satwa endemik. Harimau Sumatra misalnya, sat ini hanya tinggal 500 ekor di seluruh Sumatra.

Kawasan Batang Toru terdiri dari berbagai macam penggunaan lahan, termasuk areal lokasi proyek PLTA Batangtoru yang didominasi kebun karet (UNEP, 2011). Berbagai macam penggunaan lahan tersebut menyebabkan hutan-hutan Batangtoru yang merupakan habitat satwa liar menjadi terpisah antara yang satu dengan lainnya, seperti:

  • Perkebunan
  • Pertambangan
  • Jalan Raya
  • Pemukiman dan perkotaan

Tutupan Lahan


Seluruh lahan yang diperlukan untuk pembangunan PLTA Batangtoru dibeli dari masyarakat dan transaksi jual-beli lahan telah diselesaikan dalam kurun 2013-2016.

Di dalam PLTA Batangtoru banyak ditemukan kebun campuran dengan dominasi vegetasi berupa tanaman budidaya seperti karet, aren, kopi, cokelat, durian, petai, dan jengkol.

Berdasarkan Data Disbun Sumut (2017), diketahui bahwa keberadaan perkebunan rakyat tersebar dengan luas yang bervariasi, baik di Kecamatan Angkola Timur (361,50 Ha), Batangtoru (2.120,50 Ha), Marancar (61 Ha), dan Angkola Sangkunur (305 Ha).


Sebagian besar mata pencaharian masyarakat pada area lingkar proyek berprofesi sebagai petani, baik itu petani karet, kopi, cokelat, padi, ataupun tanaman budidaya lainnya. Vegetasi-vegetasi tersebut bernilai ekonomi bagi masyarakat di Kecamatan Sipirok, Marancar, dan Batangtoru sehingga tak heran jika vegetasi-vegetasi tersebut, termasuk area persawahan banyak dijumpai di dalam area PLTA Batangtoru.


Gambaran Umum

Batang Toru adalah Kawasan yang melingkupi tiga kabupaten : Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara di Propinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kawasan ini kaya akan sumber alam dan keanekaragaman hayati.

Luas kawasan Batangtoru adalah 163,000 ha, meliputi:

  • Hutan Lindung
  • Hutan Konservasi
  • Hutan Produksi
  • Area Penggunaan Lain, yang dialokasikan pemerintah untuk Kawasan pemukiman, pertanian, pertambangan, dll.

Selain kekayaan hutan, Batang Toru juga memiliki kekayaan satwa seperti Orangutan, Harimau Sumatera, Ikan Jurung, Tapir, Beruang, dan Burung Rangkong yang merupakan satwa endemik. Harimau Sumatra misalnya, sat ini hanya tinggal 500 ekor di seluruh Sumatra.

Kawasan Batang Toru terdiri dari berbagai macam penggunaan lahan, termasuk areal lokasi proyek PLTA Batangtoru yang didominasi kebun karet (UNEP, 2011). Berbagai macam penggunaan lahan tersebut menyebabkan hutan-hutan Batangtoru yang merupakan habitat satwa liar menjadi terpisah antara yang satu dengan lainnya, seperti:

  • Perkebunan
  • Pertambangan
  • Jalan Raya
  • Pemukiman dan perkotaan

Tutupan Lahan


Seluruh lahan yang diperlukan untuk pembangunan PLTA Batangtoru dibeli dari masyarakat dan transaksi jual-beli lahan telah diselesaikan dalam kurun 2013-2016.

Di dalam PLTA Batangtoru banyak ditemukan kebun campuran dengan dominasi vegetasi berupa tanaman budidaya seperti karet, aren, kopi, cokelat, durian, petai, dan jengkol.

Berdasarkan Data Disbun Sumut (2017), diketahui bahwa keberadaan perkebunan rakyat tersebar dengan luas yang bervariasi, baik di Kecamatan Angkola Timur (361,50 Ha), Batangtoru (2.120,50 Ha), Marancar (61 Ha), dan Angkola Sangkunur (305 Ha).


Sebagian besar mata pencaharian masyarakat pada area lingkar proyek berprofesi sebagai petani, baik itu petani karet, kopi, cokelat, padi, ataupun tanaman budidaya lainnya. Vegetasi-vegetasi tersebut bernilai ekonomi bagi masyarakat di Kecamatan Sipirok, Marancar, dan Batangtoru sehingga tak heran jika vegetasi-vegetasi tersebut, termasuk area persawahan banyak dijumpai di dalam area PLTA Batangtoru.


Gambaran Umum

Batang Toru adalah Kawasan yang melingkupi tiga kabupaten : Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara di Propinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kawasan ini kaya akan sumber alam dan keanekaragaman hayati.

Luas kawasan Batangtoru adalah 163,000 ha, meliputi:

  • Hutan Lindung
  • Hutan Konservasi
  • Hutan Produksi
  • Area Penggunaan Lain, yang dialokasikan pemerintah untuk Kawasan pemukiman, pertanian, pertambangan, dll.

Selain kekayaan hutan, Batang Toru juga memiliki kekayaan satwa seperti Orangutan, Harimau Sumatera, Ikan Jurung, Tapir, Beruang, dan Burung Rangkong yang merupakan satwa endemik. Harimau Sumatra misalnya, sat ini hanya tinggal 500 ekor di seluruh Sumatra.

Kawasan Batang Toru terdiri dari berbagai macam penggunaan lahan, termasuk areal lokasi proyek PLTA Batangtoru yang didominasi kebun karet (UNEP, 2011). Berbagai macam penggunaan lahan tersebut menyebabkan hutan-hutan Batangtoru yang merupakan habitat satwa liar menjadi terpisah antara yang satu dengan lainnya, seperti:

  • Perkebunan
  • Pertambangan
  • Jalan Raya
  • Pemukiman dan perkotaan

Tutupan Lahan


Seluruh lahan yang diperlukan untuk pembangunan PLTA Batangtoru dibeli dari masyarakat dan transaksi jual-beli lahan telah diselesaikan dalam kurun 2013-2016.

Di dalam PLTA Batangtoru banyak ditemukan kebun campuran dengan dominasi vegetasi berupa tanaman budidaya seperti karet, aren, kopi, cokelat, durian, petai, dan jengkol.

Berdasarkan Data Disbun Sumut (2017), diketahui bahwa keberadaan perkebunan rakyat tersebar dengan luas yang bervariasi, baik di Kecamatan Angkola Timur (361,50 Ha), Batangtoru (2.120,50 Ha), Marancar (61 Ha), dan Angkola Sangkunur (305 Ha).


Sebagian besar mata pencaharian masyarakat pada area lingkar proyek berprofesi sebagai petani, baik itu petani karet, kopi, cokelat, padi, ataupun tanaman budidaya lainnya. Vegetasi-vegetasi tersebut bernilai ekonomi bagi masyarakat di Kecamatan Sipirok, Marancar, dan Batangtoru sehingga tak heran jika vegetasi-vegetasi tersebut, termasuk area persawahan banyak dijumpai di dalam area PLTA Batangtoru.


Gambaran Umum

Batang Toru adalah Kawasan yang melingkupi tiga kabupaten : Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara di Propinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kawasan ini kaya akan sumber alam dan keanekaragaman hayati.

Luas kawasan Batangtoru adalah 163,000 ha, meliputi:

  • Hutan Lindung
  • Hutan Konservasi
  • Hutan Produksi
  • Area Penggunaan Lain, yang dialokasikan pemerintah untuk Kawasan pemukiman, pertanian, pertambangan, dll.

Selain kekayaan hutan, Batang Toru juga memiliki kekayaan satwa seperti Orangutan, Harimau Sumatera, Ikan Jurung, Tapir, Beruang, dan Burung Rangkong yang merupakan satwa endemik. Harimau Sumatra misalnya, sat ini hanya tinggal 500 ekor di seluruh Sumatra.

Kawasan Batang Toru terdiri dari berbagai macam penggunaan lahan, termasuk areal lokasi proyek PLTA Batangtoru yang didominasi kebun karet (UNEP, 2011). Berbagai macam penggunaan lahan tersebut menyebabkan hutan-hutan Batangtoru yang merupakan habitat satwa liar menjadi terpisah antara yang satu dengan lainnya, seperti:

  • Perkebunan
  • Pertambangan
  • Jalan Raya
  • Pemukiman dan perkotaan

Tutupan Lahan


Seluruh lahan yang diperlukan untuk pembangunan PLTA Batangtoru dibeli dari masyarakat dan transaksi jual-beli lahan telah diselesaikan dalam kurun 2013-2016.

Di dalam PLTA Batangtoru banyak ditemukan kebun campuran dengan dominasi vegetasi berupa tanaman budidaya seperti karet, aren, kopi, cokelat, durian, petai, dan jengkol.

Berdasarkan Data Disbun Sumut (2017), diketahui bahwa keberadaan perkebunan rakyat tersebar dengan luas yang bervariasi, baik di Kecamatan Angkola Timur (361,50 Ha), Batangtoru (2.120,50 Ha), Marancar (61 Ha), dan Angkola Sangkunur (305 Ha).


Sebagian besar mata pencaharian masyarakat pada area lingkar proyek berprofesi sebagai petani, baik itu petani karet, kopi, cokelat, padi, ataupun tanaman budidaya lainnya. Vegetasi-vegetasi tersebut bernilai ekonomi bagi masyarakat di Kecamatan Sipirok, Marancar, dan Batangtoru sehingga tak heran jika vegetasi-vegetasi tersebut, termasuk area persawahan banyak dijumpai di dalam area PLTA Batangtoru.