Editorial Note: PLTA Batang Toru, Solusi Mengatasi Perubahan Iklim

Dunia saat ini sedang dibayang-bayangi bencana global (global catastrophe) akibat perubahan iklim yang dinilai lebih mengerikan dibandingkan dengan pandemi Covid 19. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB mengatakan tanda-tanda dan dampak perubahan iklim sudah terlihat jelas seperti naiknya permukaan laut, hilangnya es, dan cuaca ekstrem yang meningkat selama 2015-2019, yang telah ditetapkan menjadi periode lima tahun terhangat yang pernah tercatat.

Dampak mengerikan lainnya dari perubahan iklim akibat peningkatan suhu global ini antara lain peningkatan permukaan air laut yang akan menenggelamkan sebagian besar daratan, meningkat dan meluasnya kekeringan, munculnya penyakit, kepunahan hewan dan lain-lain.

Penyebabnya tentu saja karena konsumsi energi dunia saat ini masih mengandalkan pembakaran dari bahan bakar energi yang mencapai 70 persen, dan untuk itu PBB telah memperingatkan kondisi ini sebagai krisis iklim yang harus ditangani secara serius.

Lalu bagaimana upaya mencegah peningkatan suhu bumi? Salah satu solusi yang ditawarkan adalah dengan membiarkan dua per tiga cadangan energi fossil di dalam tanah tidak boleh dibakar. Namun demikian, ini tidak mudah tanpa adanya upaya konversi penggunaan energi mengingat kebutuhan energi dunia terus bertambah.

Solusi lain yaitu penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang saat ini dinilai sangat efektif agar dunia terhindar dari bencana global yang mengerikan tersebut. Pengembangan energi terbarukan dinilai sangat penting untuk upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan mengurangi emisi karbon dari sektor energi karena banyak menggunakan energi fosil untuk menghasilkan energi listrik.

Potensi EBT di Indonesia sendiri mencapai sebesar 442 GW dari sumber yang beragam seperti: surya, air, angin, panas bumi, bio energi, dan gelombang samudera. Salah satu suber EBT yang besar adalah energi air mencapai yang 75 ribu MW dengan potensi yang cukup besar untuk dikembangkan.

Potensi inilah yang mendorong pemerintan untuk memfokuskan pengembangan EBT dengan menargetkan penggunaan EBT sebesar 23% dari total bauran energi primer nasional pada 2025. Hal ini karena pemerintah memiliki komitmen nasional untuk berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim termasuk melalui sektor energi namun juga komitmen untuk memenuhi Paris Agreement. Pemanfaatan EBT di Indonesia sendiri baru sekitar 10% dari bauran energi nasional dengan tren bauran energi terbarukan yang terus meningkat hingga 10,9 persen pada 2020.

PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, hadir sebagai bagian dari solusi dan upaya untuk menekan laju perubahan iklim global. Dengan daya sebesar 510 MW PLTA Batang Toru mampu berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sekitar 1,6 juta metrik ton setara karbon (MTCE) per tahun atau atau 4% dari target sektor energi nasional.

Kontribusi ini setara dengan kemampuan 12 juta pohon menyerap emisi karbon yang merupakan faktor utama peningkatan suhu global yang merupakan konkret untuk mengimplementasikan Kontribusi Ditentukan Nasional (NDC) pemerintah untuk Perjanjian Iklim Paris (sebagaimana dinyatakan dalam UU No. 16/2016).

PLTA Batang Toru sendiri bakal mengganti penggunaan tenaga diesel selama beban puncak di Sumatera Utara sehingga secara ekonomis mampu menghemat sekita r USD 400 juta per tahun melalui penghindaran biaya bahan bakar.

PT NSHE sebagai pengembang PLTA Batang Toru hingga kini tetap berkomitmen untuk membangun PLTA ROR Batang Toru untuk menjadi bagian dari pemenuhan komitmen pemerintah Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca 29% pada tahun 2030 sesuai Paris Agreement.

Dalam mewujudkan komitmen tersebut kami menentukan standard kualitas kerja yang tertinggi untuk lingkungan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pembangunan PLTA Batang Toru, seperti dengan memastikan kelangsungan hidup orangutan Tapanuli yang hidup berdampingan dengan PLTA kami.

Untuk itu kami bekerjasama dengan CSERM–UNAS yang beranggotakan pakar orangutan Indonesia yang berpengalaman lebih dari 30 tahun karena tanggungjawab untuk memberikan transparansi mengenai dampak dan upaya mitigasi.

Kami juga bertanggungjawab pada keselamatan dan kelangsungan populasi yang ada di wilayah kami. Scope studi yang dilakukan CSERM-UNAS ini sangat membantu kami untuk membuat rencana mitigasi yang komprehensif dan kami akan berusaha mencapai status No Net Loss

Dengan demikian, PLTA Batang Toru tidak hanya menjadi bagian dari solusi masalah lingkungan global, namun juga pada skala lokal diwujudkan secara nyata dalam pembangunannya yang sangat memperhatikan aspek lingkungan hidup di sekitarnya.