Loading...

Energi Terbarukan PLTA Solusi Lindungi Bumi

JAKARTA, Investor.id – Penyediaan pembangkit listrik energi terbarukan semakin urgen sebagai upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dan pemanasan global. Penggunaan energi terbarukan menjadi solusi mengatasi polusi lingkungan yang saat ini sudah menjadi permasalahan dunia. Tak hanya itu, penggunaan energi terbarukan juga memiliki manfaat ekonomi untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Salah satu sumber terbesar peningkatan emisi karbon di muka bumi berasal dari sektor energi. Sejak ratusan tahun lalu manusia terus menerus melepaskan emisi karbon (CO2) ke atmosfer dari pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil, seperti batu bara, gas bumi, dan minyak bumi. Peningkatan emisi karbon berdampak buruk karena memerangkap panas sinar matahari. Akibatnya, suhu bumi naik sehingga terjadi pemanasan global dan iklim pun berubah. Perubahan iklim mengancam selur uh kehidupan yang ada di bumi, baik manusia, tumbuhan, maupun hewan.

Kini, banyak negara di dunia telah berkomitmen mengurangi dominasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) pada 2050 dan menggantinya dengan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah Indonesia pun menggalakkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) melalui pembangunan pembangkit bertenaga air, panas bumi, surya, angin, hingga biodiesel.

Terkait pengembangan energi terbarukan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabinet Jokowi-JK, Ignasius Jonan mengatakan, Indonesia sudah puluhan tahun memiliki pembangkit listrik yang menggunakan energi terbarukan. “Contohnya pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). PLTA dan PLTP ini sudah lama jadi backbone (dalam penyediaan listrik),” kata Jonan dalam acara seminar dan pameran Hari Listrik Nasional, di Jakarta, pekan lalu.

Pemerintah Indonesia juga telah berkomitmen meningkatkan pemanfaatan EBT mencapai 23% dalam bauran energi nasional pada 2025. Salah satunya diwujudkan dengan menghadirkan PLTA Batang Toru berkapasitas 510 MW di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang dibangun PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE).

Menurut Communications and External Director PT NSHE Firman Taufick, pembangunan PLTA Batang Toru juga sebagai upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dari sektor energi. “PLTA Batang Toru merupakan bagian dari pelaksanaan komitmen Pemerintah RI dalam Paris Agreement untuk mengurangi emisi karbon sebesar 29% dengan usaha sendiri pada 2030,” kata Firman dalam jumpa media di Jakarta, belum lama ini.

Komitmen tersebut telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia melalui UU No 16/2016 Tentang Pengesahan Paris Agreement To The United Nations Framework Convention On Climate Change (Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim).

Setara 12 Juta Pohon

Kehadiran pembangkit energi bersih berkapasitas 510 MW itu akan berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sekitar 1,6 juta ton CO2 per tahun, atau setara dengan 12,3 juta pohon. “Proyek ini termasuk bagian dari upaya nasional untuk mengurangi emisi karbon. Kalau PLTA diberhentikan sama saja menebang 12 juta pohon,” kata Firman.

Perhitungan ini merujuk pada pengalaman pengoperasian PLTA Asahan 1 yang berada di Toba Samosir, Sumatera Utara. Pembangkit tersebut pernah mendapatkan kredit karbon melalui Clean Development Mechanism (Kyoto Protocol) pada 2011. PLTA Asahan 1 menggunakan Grid Carbon Emission Factor sebesar 0,873. Apabila diasumsikan bahwa minimal PLTA Batang Toru mendapatkan CEF sama dengan PLTA Asahan 1 maka besarnya pengurangan emisi karbon adalah 0,873 x 2.124.000 = 1.550.520 atau lebih kurang 1,6 juta ton/tahun.

Pengurangan emisi karbon 1,6 juta ton/tahun atau setara kemampuan 12,3 juta pohon Saga menyerap emisi karbon sangat penting saat ini dan ke depan. Pasalnya, bumi menghadapi ancaman besar berupa perubahan iklim, yang dapat mengakibatkan kepunahan peradaban manusia. Penyebab utamanya adalah peningkatan emisi karbon.

PLTA Batang Toru memanfaatkan arus sungai (run of river) Batang Toru, bukan menggunakan waduk (reservoire) sebagaimana PLTA pada umumnya. Pengoperasiannya menyesuaikan dengan debit air sungai. Mekanisme run of river ini menggunakan kolam tandon harian yang menampung air. Tandon itu kemudian dialirkan melalui terowongan bawah tanah menuju power house untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik 510 Megawatt (MW).

Pemakaian energi air untuk pembangkit listrik maka otomatis PLTA Batang Toru secara fundamental akan mempertahankan dan selalu berkomitmen untuk menjalankan program kelestarian kawasan Ekosistem Batang Toru yang menghasilkan air sebagai bahan baku operasinya.

Sesuai Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan Paris Agreement, Pemerintah Indonesia telah menetapkan target bauran energi 23% pada tahun 2025. Hingga kurtal I-2019, realisasi bauran energi baru mencapai 13,42% dari target 25%. Rinciannya, untuk kapasitas pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) yang telah terpasang yaitu 75 mega watt (MW). Sedangkan, untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sebesar 1.924 MW, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 42 MW, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) 4.947 MW.

Sementara itu, dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2019- 2028, Kementerian ESDM telah menginstruksikan kepada PLN agar terus mendorong pengembangan energi terbarukan, di mana target penambahan pembangkit listrik dari energi terbarukan adalah sebesar 16.714 megawatt (MW) untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) minimum 23% pada tahun 2025 dan seterusnya.

Sumber : Investor Daily

https://investor.id/business/energi-terbarukan-plta-solusi-lindungi-bumi











APAKAH ANDA MASIH MEMILIKI PERTANYAAN TENTANG LAYANAN KAMI?

Segera hubungi kami apabila ada pertanyaan yang ingin ditanyakan