Potensi Ikan Jurung Berdayakan Ekonomi Warga Batang Toru

REPUBLIKA.CO.ID, TAPSEL -- Ikan jurung mempunyai prospek besar untuk menjadi penopang kesejahteraan masyarakat di Tapanuli Selatan, dan daerah lainnya di Indonesia. Ikan jurung yang hidup di sungai kini memiliki nilai pasar yang tinggi.

Menurut Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Sulistiono, potensi ini dapat dimaksimalkan oleh masyarakat yang berada di sekitar PLTA Batang Toru. Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

"Ikan jurung memiliki harga jual yang sangat tinggi di dalam dan luar negeri. Contoh, di Malaysia mencapai Rp 750 ribu per Kg, sedangkan di Hong Kong bisa mencapai USD 262,” kata Sulistiono melalui siaran pers yang diterima Republika, Kamis (17/12).

Selain seksi di pasar internasional, lanjut Sulistiono, ikan jurung juga punya minat tinggi di pasar lokal. Dia menyebut, ada banyak rumah makan dan restoran di Sumatera yang mengalami tingginya permintaan ikan jurunguntuk menu makan siang.

Sulistiono berpendapat, ikan jurung atau di Sumatra Utara banyak disebut sebagai ikan batakmempunyai prospek besar untuk menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat di Batang Toru.

Sejak empat dekade terakhir, lanjut Sulistiono, beberapa negara telah melakukan penelitian tentang ikan Jurung yang spesiesnya ada juga di Malaysia, Thailand, dan Asia Selatan. Hasilnya, ikan jurung dapat dibudidayakan.

Contohnya, di Jambi, Bogor, Purwokerto. Bahkan di Jambi ada rekreasi ikan Jurung, sehingga masyarakat yang berkunjung dapat memberikan pakan ke ikan di sungai.

Menurut Sulistiono, agar upaya konservasi dan juga budidaya ikan Jurung dapat memberdayakan ekonomi masyarakat maka empat pihak yaitu pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat harus saling bersinergi. Upaya yang dapat dilakukan pemerintah antara lain memberikan penyuluhan, serta memfasilitasi sarana dan prasarana.

Ikan jurung merupakan ikan yang banyak ditemukan di Indonesia termasuk di kawasan Sungai Batangtoru. Ikan jurung merupakan primadona bagi masyarakat Batak.

Pasalnya, pada zaman dahulu ikan ini digunakan untuk acara-acara adat dan hanya disajikan dan boleh dinikmati untuk raja-raja Batak. Karena itu, ikan jurung juga dikenal sebagai ikan Batak di kalangan masyarakat Sumatra Utara.

Dalam keterangan yang sama, Staf Ahli Biodiversity PT. North Sumatera Hydro Energi (NSHE) Agus Djoko Ismanto mengatakan, pihaknya selaku pengembang proyek PLTA Batang Toruberkomitmen untuk turut melestarikan habitat satwa air serta ekosistem di wilayah operasi PLTA di Batang Toru, Sumatra Utara.

“Kami telah melakukan berbagai upaya untuk konservasi termasuk satwa air di lingkungan proyek. Salah satu satwa yang diupayakan konservasi dan juga budidaya adalah ikan jurung yang hidup di sungai Batang Toru,” kata Adji.

Menurut Adji, PLTA Batang Toru telah meminta bantuan Sulistiono dan kawan-kawan untuk kajian species migratory. Dari penelitian tersebut menunjukkan ikan Jurung di Batang Toru bisa dilakukan konservasi dan budidaya.

Upaya konservasi salah satunya dengan perlindungan sungai dan anak sungai karena ikan jurung memijah di anak sungai.

Sementara sebagai upaya budidaya, PLTA Batang Toru membangun hatchery di Padang Sidempuan. “Desain kami dibantu Balai Penelitian Budidaya Ikan Air Tawar. Kapasitas hatchery sekali pemijahan mampu menghasilkan sedikitnya 50 ribu anak ikan (larva ikan). Nanti sebagian ikan tersebut juga akan dilepas kembali ke Sungai Batang Toru sebagai upaya restocking untuk konservasi,” ucap Adji.

Media       : Republika.co.id

Journalist : Rep: Febrian Fachri/ Red: Agus Yulianto

Date         : 17 December 2020



https://republika.co.id/berita/qlhb6w396/potensi-ikan-jurung-berdayakan-ekonomi-warga-batang-toru